Saturday, 3 October 2015

Setiap manusia yang dilahirkan di dunia bisa dikatakan sebagai makhluk sosial, yaitu dalam artian saling membutuhkan satu sama lain. Tidak ada satupun manusia bahkan makhluk hidup lainnya bisa hidup sendiri.

Dari zaman nenek moyang kita, kita sudah dibiasakan untuk melakukan kegiatan secara bersama atau secara bergotong-royong. Misalnya membangun tempat tinggal, mencari makan, bercocok tanam, dan bekerja sama dalam  mencapai satu tujuan. Lalu pada masa penjajahan silam, rakyat Indonesia bersama-sama memerdekakan negara tercinta kita ini. Bila tidak ada rasa kebersamaan dan tidak memiliki tujuan yang sama maka Indonesia sampai sekarang masih dijajah oleh bangsa lain.

Bila kita lihat di kehidupan sehari-hari di lingkungan tempat tinggal pada setiap hari libur selalu diadakannya kegiatan gotong-royong. Bila ada kegiatan atau kejadian meninggal dunia dan sakit pasti secara otomatis masyarakat akan melakukan gotong royong dan membantu dan menyelesaikannya. 

Dalam hal lainnya ketika di dalam suatu kelompok masyarakat terjadi suatu perselisihan maka anggota  masyarakat lain membantu dan menyelesaikan masalahnya sampai selesai.

Kebersamaan itu sangat indah, hal yang dilakukan bersama-sama akan terasa sangat lebih ringan dan mudah. Dengan kita  menyukai kebersamaan, kita lebih banyak memilih teman. Dalam kaitannya memilih teman kita tidak hanya mengacu dan berpihak kepada satu teman yang itu-itu saja atau kita tidak melakukan hal yang dianggap monoton, dengan kebersamaan ini kita dapat merasakan solidaritas terhadap sesama makhluk sosial lainnya.

Kebersamaan akan terwujud jika setiap manusia memiliki sebuah visi yang sama, tidak ingin menang sendiri, tidak pilah-pilih dalam menentukan kebersamaan, kerendahan hati dan kerelaan berkorban. Adapun alasan mengapa seseorang melakukan sesuatu dengan kebersamaan, yaitu:
1.      Dalam suasana yang baik umumnya memiliki kecenderungan saling mendukung satu dengan yang lain;
2.      Beberapa kegiatan dan hal yang dilakukan menjadi ringan dilakukan dalam kebersamaan;
3.      Berkumpulnya dan saling memberikan motivasi dan ide kepada sesama masyarakat di dalam kebersamaannya.
Kebersamaan yang baik adalah kebersamaan yang terbentuk karena keutuhan bukan karena keterpaksaan, kebersamaan yang terbentuk karena keutuhan biasanya lebih mudah mencapai tujuan dibandingkan kebersamaan karena keterpaksaan.

Umumnya yang membuat seseorang menjadi nyaman dan senang di dalam kebersamaan adalah:
1.      Bertemu teman;
2.      Bertukar pikiran dan pengalaman sehingga terbaginya ilmu dan menambahnya wawasan;
3.      Seseorang dapat memahami dan mengetahui bagaimana perasaan orang lain dan belajar mengerti sikap dan sifat orang lain;
4.      Seseorang yang senang dalam kebersamaan akan merasa dirinya tidak kesepian dalam menjalani kehidupan yang sementara ini.

Kebersamaan yang baik bercirikan sebagai berikut:
1.      Adanya kekompakan dalam suatu kelompok yang telah dibangun bersama-sama dalam mencapai suatu  tujuan;
2.      Adanya rasa tegang rasa dalam berinteraksi satu sama lain sehingga terciptanya suatu kebersamaan yang baik;
3.      Dengan adanya kebersamaan maka setiap kepentingan anggota akan terpenuhi dan akan terselesaikan ketika semuanya memiliki sebuah tujuan yang sama dalam mencapai sebuah keberhasilan.

Hal-hal kritis yang terdapat dalam kebersamaan adalah dengan cara mengorbankan kepentingan pribadi dan mengedepankan kepentingan bersama serta selalu mengarah kepada kemajuan bersama bukan kepada individu yang ingin menuju tujuannya sendiri-sendiri.

Selain hal-hal tersebut kebersamaan menjadikan setiap manusia menjadikan dirinya ke arah yang jelas kearah mana kehidupan dan tujuan hidupnya serta dibutuhkan proses untuk lebih memahami kebersamaan.

Kebersamaan yang telah dibangun pasti akan mengalami suatu rintangan dan halangan dalam prosesnya, berikut merupakan hal-hal yang dapat merusak kebersamaan, yaitu:
1.      Individu yang terlibat di dalam suatu kelompok kebersamaan menginginkan setiap kemauannya selalu terpenuhi dan tidak memikirkan individu yang lain atau yang sering disebut ingin menang sendiri;
2.      Anggota yang terlibat dalam suatu kebersamaan selalu berfikiran negatif terhadap anggota lain di dalam suatu proses kebersamaan;
3.      Dalam suatu kebersamaan adanya sikap saling menyalahkan dan tidak ingin melakukan sebuah perbaikan bersama-sama;
4.      Adanya sikap saling tuding antar anggota kelompok kebersamaan yang membuat kepercayaan satu sama lain berkurang dan mengakibatkan terpecah belahnya sebuah kebersamaan.
Jika dalam kebersamaan terjadi hal yang dapat merusak, maka kebersamaan juga dapat menghasilkan suatu hal yang menyenangkan dan menarik bagi makhluk sosial, yaitu:
1.      Dengan adanya kebersamaan menjadikan setiap individu bertemu dan berinteraksi satu sama lain sehingga membentuk sebuah chemistry yang sangat baik dalam mencapai tujuan bersama;
2.      Kebersamaan yang tercipta menjadikan setiap individu membagi pikirannya untuk sharing dan memberikan wawasannya kepada individu lainnya sehingga menjadikan semuanya memiliki ilmu yang lebih banyak;
3.      Dengan terciptanya sebuah kebersamaan maka setiap individu yang terlibat didalamnya menjadi saling memahami dan mengerti sikap dan sifat dari  masing-masing individunya;
4.      Setiap individu yang terlibat dalam kebersamaan menjadi banyak teman dan tidak merasa dirinya kesepian sehingga hidupnya akan terasa ringan dan tujuannya dapat diselesaikan;
5.      Kebersamaan yang lebih dalam akan membuat seseorang yang terlibat di dalamnya akan menjadi lebih termotivasi dalam melakukan suatu kegiatan dan akan lebih mudah dalam mencapai tujuannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Bila dikaitkan dengan Pancasila sangat jelas keterkaitannya dengan Pancasila, yaitu sila ketiga. Nilai-nilai sila ketiga salah satunya menempatkan kebersamaan, kesatuan, kepentingan, dan keselamatan bangsa dan negara diatas kepentingan pribadi dan golongan.

Namun derasnya arus globalisasi menjadikan aktualisasi dari pamor tersebut terseret jauh dari kehidupan masyarakat saat ini. Kebersamaan yang menjadi asing untuk disaksikan keberadaannya, kita perlu sadar diri dan tidak perlu berpura-pura lagi menutup mata pada kenyataan hari ini bahwa gotong-royong telah menjadi “budaya langka”. Benarkah demikian? Mengapa nilai luhur yang pernah menjadi jati diri bangsa kini menjadi asing di negeri sendiri?

Kegiatan gotong royong yang kelihatannya asing tersebut sangarlah terasa dikalangan masyarakat dikarenakan adanya perbedaan dan tidak adanya rasa rendah hati dan lebih banyak memperlihatkan sikap acuh menjadikan sikap dan perilaku tolong-menolong semakin lama semakin pudar. Hal tersebut menjadikan Indonesia terpecah belah di dalam diri masyarakatnya dan menurunnya moral di dalam setiap jiwa raga masyarakat, dimana setiap individu tidak peduli lagi kepada sesama dan leboh mementingkan dirinya sendiri sehingga tidak terciptanya keseimbangan yang terbangun di dalam diri bangsa Indonesia.

Di era Millenium ini kegiatan gotong royong sudah sangat jarang ditemukan baik dalam kelompok kebersamaan maupun kelompok masyarakat pada umumnya, terlihat jelas bahwa tidak adanya atau berkurangnya rasa kepedulian terhadap sesama makhluk sosial yang menjadikan gotong royong menjadi suatu hal yang tabu bagi masyarakat era sekarang ini.

Hal tersebut sudah dibiarkan bertahun-tahun, dan yang membuat hal tersebut terjadi yakni adanya suatu perbedaan di dalam berpendapat dan perbedaan yang terjadi antara masyarakat dengan masyarakat lain terkait hal-hal mengenai kehidupan. Seperti yang telah dijelaskan diatas mengenai adanya hal-hal yang membuat kebersamaan itu rusak sudah sangat jelas bahwa setiap orang yang berbeda pendapat harus lah selalu mengoreksi diri sendiri dan ingin memperbaikinya satu sama lain sehingga menemukan jalan keluar dari suatu masalah yang ada saat ini dan menghindari terjadinya konflik antar individu yang menjadikan dualisme di setiap elemen dan bagian masyarakat menjadi meluas dan tidak terhindarkan yang pada akhirnya akan merusak sendi-sendi kebersamaan yang akan dibangun untuk menuju suatu tujuan yang mulia di dalam kehidupan.

Ditengah segala perbedaan yang ada kita patut  bersyukur bisa disatukan dalam konsep Indonesia yang menganut Pancasila sebagai pedoman dasarnya. Mengacu pada sila Keruhanan Yang Maha Esa, kita perlu menyadari akan anugerah yang telah diberikan, sebab atas nama Tuhan Yang Maha Esa kita bisa disatukan untuk bisa menuju keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dengan demikian hubungan antara kebersamaan, gotong royong, dan Pancasila sebagai satu kesatuan yang utuh tidak boleh dipisahkan.

Tetapi banyaknya masyarakat kita yang tidak mau dan tidak menyadari akan hubungan kebersamaan, gotong royong, dan Pancasila sehingga membuat masyarakat tidak peduli dengan adanya rasa saling tolong-menolong dan rasa ingin tahu mengapa hubungan ketiga elemen tersebut sangatlah erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari.

Seringkali adanya sikap tidak kepedulian yang membuat masyarakat Indonesia tidak menyadari akan adanya hal ini, era globalisasi yang membuat kebiasaan kebaratan yang muncul dan mempengaruhi sikap dan sifat individu yang membuat hal ini tidak terealisasi dan tidak berjalan dengan baik. Kurangnya kepedulian, kurangnya rasa bertanggung jawab dan sikap acuh kepada sesama yang menjadikan pekerjaan rumah untuk sebuah negara Indonesia agar menjadikan masuyarakatnya kembali kepada kebudayaannya nenek moyangnya dahulu yang mengedepankan rasa tanggung jawab dan tenggang rasa kepada sesama individu lainnya sehingga tercapailah sila yang ketiga “Persatuan Indonesia” dimana semua elemen masyarakat Indonesia saling membantu dan saling rendah diri untuk tidak segan membantu sesama dalam menyelesaikan suatu permsalahan dan mencapai tujuan bersama.

Adanya persamaan beban yang dirasakan bersama adalah embrio sifat solidaritas yang akan menumbuhkan persatuan dan kesatuan antar sesama anak bangsa. Beratnya beban yang dipikul tidak akan terasa lagi berat ketika diselesaikan secara bersama-sama, alhasil permasalahan seberat dan sesulit apapun pasti akan mampu diselesaikan secara bersama-sama.

Kekuatan ini yang menjadi bangsa Indonesia menjadi bangsa yang disegani oleh bangsa lain, terutama ketika masa Sriwijaya, Majapahit, dan masa pemerintahan Soeharto.

Kebersamaan adalah sebuah sarana untuk mempersatukan berbagai macam perbedaan, karena memang persatuan dan kesatuan adalah syarat utama yang menentukan kuat atau tidaknya sebuah bangsa mampu bertahan dalam peraturan bangsa-bangsa di dunia yang menentukan apakah Indonesia dapat bersaing dan berada diatas bangsa-bangsa lain.
Berbagai macam perbedaan yang ada pada teritorial suatu bangsa sepatutnya dapat disatukan melalui penyatuan visi dan misi yang berlandaskan kebenaran universal dan hal tersebut sudah menjadi komposisi utama Pancasila.

Pancasila merupakan bagian yang tidak dapat terpisahkan dari kehidupan bangsa Indonesia dan gotong-royong serta kebersamaan merupakan sifat yang tidak terpisahkan oleh bangsa karena termasuk ciri khas budaya dari leluhur negara Indonesia. Dalam sejarah terdapat berbagai macam unsur yang terkait mulai dari zaman dahulu sampai dengan sekarang, di masa orde baru banyak terjadi ideologi-ideologi kelompok masyarakat yang tidak menganggap adanya Pancasila, namun karena adanya kebersamaan yang bersifat “gotong royong” itu telah menjadikan suatu titik tolak ukur penyemangat bangsa untuk menyingkirkan pihak-pihak yang menggangu dari kemakmuran dan kesejahteraan bangsa Indonesia.


Dalam pengamalan Pancasila khusunya sila ketiga “Persatuan Indonesia” membuat semangat kebersamaan dan gotong royong merupakan salah satu ciri khas bangsa Indonesia. Maka makna Pancasila merupakan satu kesatuan dari sila-sila yang ada dan tidak dapat terpisahkan bahwa Pancasila sebagai idelologi bangsa yang mempunyai fungsi dan sekaligus sumber inspirasi pembangunan untuk mewujudkan keadilan sosial demi kemakmuran seluruh bangsa Indonesia.