Setiap manusia yang
dilahirkan di dunia bisa dikatakan sebagai makhluk sosial, yaitu dalam artian
saling membutuhkan satu sama lain. Tidak ada satupun manusia bahkan makhluk
hidup lainnya bisa hidup sendiri.
Dari zaman nenek moyang
kita, kita sudah dibiasakan untuk melakukan kegiatan secara bersama atau secara
bergotong-royong. Misalnya membangun tempat tinggal, mencari makan, bercocok
tanam, dan bekerja sama dalam mencapai
satu tujuan. Lalu pada masa penjajahan silam, rakyat Indonesia bersama-sama
memerdekakan negara tercinta kita ini. Bila tidak ada rasa kebersamaan dan
tidak memiliki tujuan yang sama maka Indonesia sampai sekarang masih dijajah
oleh bangsa lain.
Bila kita lihat di
kehidupan sehari-hari di lingkungan tempat tinggal pada setiap hari libur
selalu diadakannya kegiatan gotong-royong. Bila ada kegiatan atau kejadian
meninggal dunia dan sakit pasti secara otomatis masyarakat akan melakukan
gotong royong dan membantu dan menyelesaikannya.
Dalam hal lainnya ketika di
dalam suatu kelompok masyarakat terjadi suatu perselisihan maka anggota masyarakat lain membantu dan menyelesaikan
masalahnya sampai selesai.
Kebersamaan itu sangat
indah, hal yang dilakukan bersama-sama akan terasa sangat lebih ringan dan
mudah. Dengan kita menyukai kebersamaan,
kita lebih banyak memilih teman. Dalam kaitannya memilih teman kita tidak hanya
mengacu dan berpihak kepada satu teman yang itu-itu saja atau kita tidak
melakukan hal yang dianggap monoton, dengan kebersamaan ini kita dapat
merasakan solidaritas terhadap sesama makhluk sosial lainnya.
Kebersamaan akan
terwujud jika setiap manusia memiliki sebuah visi yang sama, tidak ingin menang
sendiri, tidak pilah-pilih dalam menentukan kebersamaan, kerendahan hati dan
kerelaan berkorban. Adapun alasan mengapa seseorang melakukan sesuatu dengan
kebersamaan, yaitu:
1.
Dalam suasana yang baik umumnya memiliki
kecenderungan saling mendukung satu dengan yang lain;
2.
Beberapa kegiatan dan hal yang dilakukan
menjadi ringan dilakukan dalam kebersamaan;
3.
Berkumpulnya dan saling memberikan
motivasi dan ide kepada sesama masyarakat di dalam kebersamaannya.
Kebersamaan yang baik
adalah kebersamaan yang terbentuk karena keutuhan bukan karena keterpaksaan,
kebersamaan yang terbentuk karena keutuhan biasanya lebih mudah mencapai tujuan
dibandingkan kebersamaan karena keterpaksaan.
Umumnya yang membuat
seseorang menjadi nyaman dan senang di dalam kebersamaan adalah:
1.
Bertemu teman;
2.
Bertukar pikiran dan pengalaman sehingga
terbaginya ilmu dan menambahnya wawasan;
3.
Seseorang dapat memahami dan mengetahui
bagaimana perasaan orang lain dan belajar mengerti sikap dan sifat orang lain;
4.
Seseorang yang senang dalam kebersamaan
akan merasa dirinya tidak kesepian dalam menjalani kehidupan yang sementara
ini.
Kebersamaan yang baik
bercirikan sebagai berikut:
1.
Adanya kekompakan dalam suatu kelompok
yang telah dibangun bersama-sama dalam mencapai suatu tujuan;
2.
Adanya rasa tegang rasa dalam
berinteraksi satu sama lain sehingga terciptanya suatu kebersamaan yang baik;
3.
Dengan adanya kebersamaan maka setiap
kepentingan anggota akan terpenuhi dan akan terselesaikan ketika semuanya
memiliki sebuah tujuan yang sama dalam mencapai sebuah keberhasilan.
Hal-hal kritis yang
terdapat dalam kebersamaan adalah dengan cara mengorbankan kepentingan pribadi
dan mengedepankan kepentingan bersama serta selalu mengarah kepada kemajuan
bersama bukan kepada individu yang ingin menuju tujuannya sendiri-sendiri.
Selain hal-hal tersebut
kebersamaan menjadikan setiap manusia menjadikan dirinya ke arah yang jelas
kearah mana kehidupan dan tujuan hidupnya serta dibutuhkan proses untuk lebih
memahami kebersamaan.
Kebersamaan yang telah
dibangun pasti akan mengalami suatu rintangan dan halangan dalam prosesnya,
berikut merupakan hal-hal yang dapat merusak kebersamaan, yaitu:
1.
Individu yang terlibat di dalam suatu
kelompok kebersamaan menginginkan setiap kemauannya selalu terpenuhi dan tidak
memikirkan individu yang lain atau yang sering disebut ingin menang sendiri;
2.
Anggota yang terlibat dalam suatu
kebersamaan selalu berfikiran negatif terhadap anggota lain di dalam suatu
proses kebersamaan;
3.
Dalam suatu kebersamaan adanya sikap
saling menyalahkan dan tidak ingin melakukan sebuah perbaikan bersama-sama;
4.
Adanya sikap saling tuding antar anggota
kelompok kebersamaan yang membuat kepercayaan satu sama lain berkurang dan
mengakibatkan terpecah belahnya sebuah kebersamaan.
Jika dalam kebersamaan
terjadi hal yang dapat merusak, maka kebersamaan juga dapat menghasilkan suatu
hal yang menyenangkan dan menarik bagi makhluk sosial, yaitu:
1.
Dengan adanya kebersamaan menjadikan
setiap individu bertemu dan berinteraksi satu sama lain sehingga membentuk
sebuah chemistry yang sangat baik dalam mencapai tujuan bersama;
2.
Kebersamaan yang tercipta menjadikan
setiap individu membagi pikirannya untuk sharing dan memberikan wawasannya
kepada individu lainnya sehingga menjadikan semuanya memiliki ilmu yang lebih
banyak;
3.
Dengan terciptanya sebuah kebersamaan
maka setiap individu yang terlibat didalamnya menjadi saling memahami dan
mengerti sikap dan sifat dari
masing-masing individunya;
4.
Setiap individu yang terlibat dalam
kebersamaan menjadi banyak teman dan tidak merasa dirinya kesepian sehingga
hidupnya akan terasa ringan dan tujuannya dapat diselesaikan;
5.
Kebersamaan yang lebih dalam akan
membuat seseorang yang terlibat di dalamnya akan menjadi lebih termotivasi
dalam melakukan suatu kegiatan dan akan lebih mudah dalam mencapai tujuannya
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Bila dikaitkan dengan
Pancasila sangat jelas keterkaitannya dengan Pancasila, yaitu sila ketiga.
Nilai-nilai sila ketiga salah satunya menempatkan kebersamaan, kesatuan,
kepentingan, dan keselamatan bangsa dan negara diatas kepentingan pribadi dan
golongan.
Namun derasnya arus
globalisasi menjadikan aktualisasi dari pamor tersebut terseret jauh dari
kehidupan masyarakat saat ini. Kebersamaan yang menjadi asing untuk disaksikan
keberadaannya, kita perlu sadar diri dan tidak perlu berpura-pura lagi menutup
mata pada kenyataan hari ini bahwa gotong-royong telah menjadi “budaya langka”.
Benarkah demikian? Mengapa nilai luhur yang pernah menjadi jati diri bangsa
kini menjadi asing di negeri sendiri?
Kegiatan gotong royong
yang kelihatannya asing tersebut sangarlah terasa dikalangan masyarakat
dikarenakan adanya perbedaan dan tidak adanya rasa rendah hati dan lebih banyak
memperlihatkan sikap acuh menjadikan sikap dan perilaku tolong-menolong semakin
lama semakin pudar. Hal tersebut menjadikan Indonesia terpecah belah di dalam
diri masyarakatnya dan menurunnya moral di dalam setiap jiwa raga masyarakat,
dimana setiap individu tidak peduli lagi kepada sesama dan leboh mementingkan
dirinya sendiri sehingga tidak terciptanya keseimbangan yang terbangun di dalam
diri bangsa Indonesia.
Di era Millenium ini
kegiatan gotong royong sudah sangat jarang ditemukan baik dalam kelompok
kebersamaan maupun kelompok masyarakat pada umumnya, terlihat jelas bahwa tidak
adanya atau berkurangnya rasa kepedulian terhadap sesama makhluk sosial yang
menjadikan gotong royong menjadi suatu hal yang tabu bagi masyarakat era
sekarang ini.
Hal tersebut sudah dibiarkan bertahun-tahun, dan yang membuat hal tersebut terjadi yakni adanya suatu perbedaan di dalam berpendapat dan perbedaan yang terjadi antara masyarakat dengan masyarakat lain terkait hal-hal mengenai kehidupan. Seperti yang telah dijelaskan diatas mengenai adanya hal-hal yang membuat kebersamaan itu rusak sudah sangat jelas bahwa setiap orang yang berbeda pendapat harus lah selalu mengoreksi diri sendiri dan ingin memperbaikinya satu sama lain sehingga menemukan jalan keluar dari suatu masalah yang ada saat ini dan menghindari terjadinya konflik antar individu yang menjadikan dualisme di setiap elemen dan bagian masyarakat menjadi meluas dan tidak terhindarkan yang pada akhirnya akan merusak sendi-sendi kebersamaan yang akan dibangun untuk menuju suatu tujuan yang mulia di dalam kehidupan.
Ditengah segala
perbedaan yang ada kita patut bersyukur
bisa disatukan dalam konsep Indonesia yang menganut Pancasila sebagai pedoman
dasarnya. Mengacu pada sila Keruhanan Yang Maha Esa, kita perlu menyadari akan
anugerah yang telah diberikan, sebab atas nama Tuhan Yang Maha Esa kita bisa
disatukan untuk bisa menuju keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Dengan demikian
hubungan antara kebersamaan, gotong royong, dan Pancasila sebagai satu kesatuan
yang utuh tidak boleh dipisahkan.
Tetapi banyaknya
masyarakat kita yang tidak mau dan tidak menyadari akan hubungan kebersamaan,
gotong royong, dan Pancasila sehingga membuat masyarakat tidak peduli dengan
adanya rasa saling tolong-menolong dan rasa ingin tahu mengapa hubungan ketiga
elemen tersebut sangatlah erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari.
Seringkali adanya sikap
tidak kepedulian yang membuat masyarakat Indonesia tidak menyadari akan adanya
hal ini, era globalisasi yang membuat kebiasaan kebaratan yang muncul dan mempengaruhi
sikap dan sifat individu yang membuat hal ini tidak terealisasi dan tidak
berjalan dengan baik. Kurangnya kepedulian, kurangnya rasa bertanggung jawab
dan sikap acuh kepada sesama yang menjadikan pekerjaan rumah untuk sebuah
negara Indonesia agar menjadikan masuyarakatnya kembali kepada kebudayaannya
nenek moyangnya dahulu yang mengedepankan rasa tanggung jawab dan tenggang rasa
kepada sesama individu lainnya sehingga tercapailah sila yang ketiga “Persatuan
Indonesia” dimana semua elemen masyarakat Indonesia saling membantu dan saling
rendah diri untuk tidak segan membantu sesama dalam menyelesaikan suatu
permsalahan dan mencapai tujuan bersama.
Adanya persamaan beban
yang dirasakan bersama adalah embrio sifat solidaritas yang akan menumbuhkan
persatuan dan kesatuan antar sesama anak bangsa. Beratnya beban yang dipikul
tidak akan terasa lagi berat ketika diselesaikan secara bersama-sama, alhasil
permasalahan seberat dan sesulit apapun pasti akan mampu diselesaikan secara
bersama-sama.
Kekuatan ini yang
menjadi bangsa Indonesia menjadi bangsa yang disegani oleh bangsa lain,
terutama ketika masa Sriwijaya, Majapahit, dan masa pemerintahan Soeharto.
Kebersamaan adalah
sebuah sarana untuk mempersatukan berbagai macam perbedaan, karena memang
persatuan dan kesatuan adalah syarat utama yang menentukan kuat atau tidaknya
sebuah bangsa mampu bertahan dalam peraturan bangsa-bangsa di dunia yang
menentukan apakah Indonesia dapat bersaing dan berada diatas bangsa-bangsa
lain.
Berbagai macam
perbedaan yang ada pada teritorial suatu bangsa sepatutnya dapat disatukan
melalui penyatuan visi dan misi yang berlandaskan kebenaran universal dan hal
tersebut sudah menjadi komposisi utama Pancasila.
Pancasila merupakan
bagian yang tidak dapat terpisahkan dari kehidupan bangsa Indonesia dan
gotong-royong serta kebersamaan merupakan sifat yang tidak terpisahkan oleh
bangsa karena termasuk ciri khas budaya dari leluhur negara Indonesia. Dalam
sejarah terdapat berbagai macam unsur yang terkait mulai dari zaman dahulu
sampai dengan sekarang, di masa orde baru banyak terjadi ideologi-ideologi
kelompok masyarakat yang tidak menganggap adanya Pancasila, namun karena adanya
kebersamaan yang bersifat “gotong royong” itu telah menjadikan suatu titik
tolak ukur penyemangat bangsa untuk menyingkirkan pihak-pihak yang menggangu
dari kemakmuran dan kesejahteraan bangsa Indonesia.
Dalam pengamalan
Pancasila khusunya sila ketiga “Persatuan Indonesia” membuat semangat
kebersamaan dan gotong royong merupakan salah satu ciri khas bangsa Indonesia.
Maka makna Pancasila merupakan satu kesatuan dari sila-sila yang ada dan tidak
dapat terpisahkan bahwa Pancasila sebagai idelologi bangsa yang mempunyai
fungsi dan sekaligus sumber inspirasi pembangunan untuk mewujudkan keadilan
sosial demi kemakmuran seluruh bangsa Indonesia.
No comments:
Post a Comment